the Word |
QUO VADIS DENGAN CINTA By Nuasa Published: December 19, 2006
Print Email
Kami terlibat diskusi yang seru. Beni menyalakan batang rokoknya yang ketiga di malam ini, “Bagi saya cinta merupakan medan magnet. Saat dirimu berada pada suatu situasi tertentu, medang magnet dalam dirimu akan mengarahkanmu pada seseorang. Apabila dirimu kutub Utara dan lawan jenismu kutub Selatan maka akan terjadi gaya tarik menarik diantaramu, lalu orang akan mendefinisikannya sebagai jatuh cinta.” “Bagaimana bila lawan jenis kita tidak merespon” “Ada dua kemungkinan, yang pertama, lawan jenis tadi bukan lawan dari medan magnet hingga tidak terjadi gaya tarik menarik. Kemungkinan kedua, daya medan magnet tersebut kalaulah lawan dari magnet diri kita, amatlah lemah hingga tidak cukup kuat untuk menarik diri kita untuk memasuki medan magnetnya. Orangpun menyebutnya cinta bertepuk sebelah tangan.” Berbarengan kami menyanyikan lagu Pupus milik Dewa. **** “Jodoh itu seperti kata yang memang diciptakan untuk menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seperti halnya kata nasib atau takdir, dicari-cari ya ada bedanya tetapi ujung-ujungnya ya tetap sama. Itu yang kubaca dari novel Auk-nya Arswendo Atmowiloto” “Mungkin akan lebih baik kalau kita membuat garis demakarsi dari apa yang kita bicarakan malam ini dengan memisahkan agama di sisi lain. Karena apa ? karena aku hanya ingin apa yang kita ungkapkan merupakan pemahaman dari logika murni kita. Kalaupun itu terinfiltrasi oleh pemahaman agama, setidaknya kita tidak langsung menjawabnya dari sisi agama” “Tapi logika itu terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang dialami sepanjang sejarah manusia itu sendiri, kan!” “Ya, tapi mulai dari jaman Aristoteles, Imanuel Kant, Sigmund Freud, Erich Fromm dan Michael Foucalt, bisa memunculkan ide-ide gemilang yang jauh dari agama” “Mereka atheis!”, jawab Anank sinis. “Eit jangan main vonis dulu. Keputusan mereka untuk seperti itu kan sebagai reaksi atas tidak terpuaskannya mereka oleh doktrin yang dilakukan oleh kaum agamis” “Walau kita tidak bisa memungkiri, doktrin paling sukses ya agama itu,!’ Bima menambahi. “Oke Bim, sekarang giliranmu. Menurutmu apa parameter dari jodoh?”, aku yang mengambil posisi sebagai moderator langsung menghujamkan pertanyaan pada Bima. “More question”, Bima balik bertanya. “Ya, itu tadi. Menurut kamu tolok ukur apa hingga kamu bisa mengkategorisasikan seseorang itu berjodoh dengan yang lainnya” “Mereka menikah” “Hanya itu?” “Ya” “Lalu pertanyaan berikutnya. Apabila mereka menikah selama 15 tahun kemudian mereka bercerai, apa kamu masih menggolongkan mereka berjodoh?’ “Mereka berjodoh selama 15 tahun” “Ooo…. menurutmu, jodoh itu memiliki durasinya tersendiri. Dalam kasus tadi lifetime-nya hanya 15 tahun”, aku menyimpulkan. Beni menambahkan,”Berarti semakin pendek usia lifetime-nya ada kemungkinan cinta kita tersebut tidak original, malah mungkin BM (Black Market). “Cinta mengenal aus, dia bisa berkarat oleh waktu. Cinta harus senantiasa di up-grade, kalau tidak dia akan tertindas oleh jaman” “Makanya kenapa orang banyak berselingkuh di puber keduanya. Pasangan itu tak mau saling mengupgrade. Sang suami sudah pentium IV, sang isteri masih asyik dengan pentium I, atau malah belum pentium…..hahaha….” **** Anank dengan gaya cool-nya., kembali membakar Marlboro-nya. “Parameter jodoh dengan menikah terlalu naif!” Pelan, singkat tapi cukup menohok. Tapi kami terbiasa dengan situasi seperti ini. “Bagaimana kamu mendefinisikan kasus Siti Nurbaya yang menikah dengan Dato Maringgih, itukah jodoh menurutmu? Lalu bagaimana dengan kawin paksa-kawin paksa lainnya?, tetapkah kamu menggunakan kosa kata jodoh untuk menerangkan hubungan mereka” “Ya, selama mereka menikah dengan resmi”, tukas Bima cepat. “Jadi meski seseorang menikah tanpa dilandasi oleh cinta tetap kamu definisikan jodoh” “Ya karena bagi saya sebelum seseorang menikah tidak ada namanya cinta. Cinta itu mulai tumbuh ketika seseorang menikah” “Lalu apa itu yang tumbuh saat seseorang berpacaran?” “Itu nafsu namanya…..” “Berarti tidak ada dong istilah jatuh cinta, yang ada jatuh nafsu” “Iya begitulah”, tukas Bima singkat. Semua termenung tidak menyangka Bima mengemukakan argumen aneh ini. Anank bertanya,”Apa kamu yakin cinta itu tumbuh dari hati Siti Nurbaya terhadap Dato Maringgih setelah mereka menikah?” Bima mengangguk pelan, “Yakin…” “Cinta conditioning, cinta karena kebiasaan, cinta yang tumbuh oleh waktu. Orang Jawa bilang witing tresno jalaran saka kulino” “Witing tresno jalaran kepekso…” sahut Anank “Witing tresno jalaran ora ono liyo…” sahut Beni lagi. **** “Tidak bisa seperti itu. Kamu ingat Kiki teman kita, dia menikah dengan Bunga lima tahun yang lalu. Tapi apa yang diucapkannya baru-baru ini, dia merasa Bunga bukan jodohnya meskipun mereka telah menikah. Pikiran dan hatinya masih untuk Sari, pacar sebelumnya” Mereka terdiam. Mereka juga tahu apa yang dialami Kiki, teman mereka juga. Mereka bingung mengkategorisasikan teman mereka yang satu ini. “Bunga, isteri untuk fisiknya tapi Sari pacar untuk hatinya” “Itu juga yang mungkin akan diucapkan Siti Nurbaya kalau kita berkesempatan menanyainya” Bahkan kalau kamu ingat Kiki pernah bercerita kenapa dia lebih suka bercinta dengan isterinya dalam kondisi lampu dimatikan. “Biar dia bisa membayangkan sedang bercinta dengan Sari!” ujar Bima cepat. “Persis novel Saman-Ayu Utami…” “Aku sendiri ketika membaca itu kupikir terlalu mengada-ada” “Yup too fiksi, novel sekali” “Tapi ternyata ada juga perilaku manusia seperti itu. Sakit …….” “Aku tak habis pikir, aku membayangkan Kiki berteriak menyebut nama Sari saat ejakulasi….Sar……rriiiiiiiiii…” “Huahahaha……” “It’s not our bussiness, Man !” Kami tertawa terbahak-bahak. **** “Tapi tragis juga aku pikir” Kami terhenti tertawa. Belum tahu arah pembicaraan Beni. “Tragis bagaimana maksudmu?” tanya Beni. “Kamu tidak pernah mencoba menganalisa kasus Kiki” “What for?” tanyaku. “Ya siapa tahu kamu jadikan studi kasus buat thesismu” “Terlalu dangkal…” Aku dilempari kulit kacang. “Mungkin kisah Kiki dalam skala modern tidak beda jauh dengan kisah Siti Nurbaya. “Emang seperti apa sih kejadiannya?” “Apakah kalian tidak merasa aneh dengan tidak sinkronnya sebutan ayah untuk Kiki dan mama untuk Bunga!” “Maksud kamu” “Ya dimana-mana pasangan ayah itu ibu. Pasangan mama ya papa” “Itu hak mereka!” “Lalu apa yang perlu dipermasalahkan?” “Apa kamu tidak pernah menyadari kalau Sari pun melakukan hal yang sama?” Kami berpandangan sama sekali tidak pernah berpikir jauh ke arah ini. “Sari pun meminta kepada anaknya untuk memanggil dirinya bunda, meskipun suaminya memakai panggilan papi pada dirinya. Nyambung nggak papih dan bunda, ayah dan mama?” “Paranoid kamu?” “Tunggu dulu, ingat tidak waktu acara tujuh bulan anak Sari. Dia dengan antusias menggendong anaknya dan menunjukkannya kepada Kiki dengan mengatakan, ananda ini lho bunda kenalkan dengan ayahanda. Dan reaksi Kiki teramat sangat kelihatan, dia begitu sayang dengan anak dari Sari” Kami saling berpandangan. “Jadi secara tidak langsung Sari dan Kiki masih melakukan kontak batin. Sebutan Ayahanda dan Bunda sengaja mereka setting untuk menunjukkan mereka sebenarnya Aku mencoba menengahi. “Tampaknya kita perlu memisahkan definisi kata jodoh dan cinta. Ini sesuatu yang berbeda. Di satu sisi kita bisa sepakat bahwa jodoh bisa kita tentukan dari pernikahan, tetapi cinta terutama cinta sejati itu urusan hati, sifatnya lebih subyektif dan tidak mengenal tolok ukur apapun untuk mendefinisikannya. Karena cinta tidak berbentuk tapi berasa, kita hanya bisa tahu dari simbol-simbol cinta dan lamanya waktu yang membuktikan” “Maksudmu cinta sejati juga memiliki durasinya?” “Bukan, tetapi ketika seseorang dijemput oleh malaikat untuk menghadap-Nya. Pada saat terakhirnya tersebut wajah siapa yang terbayang di matanya” “Wah susah dong untukmengetahuinya” “Lho dari awal kan sudah kubilang cinta sejati sifatnya subyektif” Batang rokok mulai habis, yang tersisa hanyalah puntung-puntung yang menyesaki satu asbak kaleng bagaikan tumpukan pasir. Dingin pun mulai menyeruak, kulirik jam dinding, sudah jam setengah tiga pagi. Kamar-kamar kost sebagian sudah tertutup dari tadi, begitu juga dengan lampu-lampu kamarnya. Biarlah alur diskusi ini berkembang dengan liar. Tidak usah dipikirkan, apalagi ditindaklanjuti. Mereka semua hanya bisa berteori, menjadikan cinta sebagai suatu wacana yang mereka sendiri tidak pernah mencobanya atau mempraktekkannya. Beni berusia 35 tahun, Anank dan Bima sama-sama 34 tahun, dan aku sendiri 33 tahun. Tidak satupun diantara kami yang pernah jatuh cinta, merasakan cinta, yang kata orang kalau cinta sudah melekat tai kucing terasa cokelat. Quo Vadis dengan Cinta……………. |
|
|