Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /hsphere/local/home/deeduu/nuansabiru.com/index.php:1) in /hsphere/local/home/deeduu/nuansabiru.com/index.php on line 149

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /hsphere/local/home/deeduu/nuansabiru.com/index.php:1) in /hsphere/local/home/deeduu/nuansabiru.com/includes/usersystems/subdreamer.php on line 79
i love you more than i said - MEMBINGKAI SEBUAH GAMBAR TERINDAH UNTUK ADEEZA
the Word
MEMBINGKAI SEBUAH GAMBAR TERINDAH UNTUK ADEEZA
By admin
Published: March 11, 2009
Print    Email

 

Hampir  tiap pagi saya selalu menyempatkan diri berjalan-jalan pagi bersama anak saya Adeeza  Azrirayhan Shafwan Putra. Sehabis shalat  subuh saya menunggu anak saya bangun karena terkadang dia bangun lebih pagi dari saya tapi sering juga terbangun lebih siang daripada ayahnya.

 

 

 

Begitu bangun tidur langsung diberi mimik sebotol susu, pasti dia sudah terkondisikan untuk segera bangun sembari tangannya menunjuk-nunjuk ke arah atas,”…..Ta….Ta….!!”, begitu cara dia memanggil kereta. Dan dari sorot matanya dia meminta saya untuk segera mengajaknya jalan-jalan.

aya pakaikan sepatu sandal atau sandal jepit dengan karet yang membalut kakinya, Deeza selalu semangat untuk pergi jalan-jalan di pagi hari. Bahkan terkadang dia berjalan dengan sedikit berlari menyusul  saya. Kalau di tengah-tengah jalan saya bertemu dengan kenalan atau tetangga dia tampak tidak begitu peduli sebelum bisa melihat kereta api. Padahal kalau kita datang terlalu cepat pun sering harus menunggu cukup lama hingga kereta api itu lewat.

Ketika sudah berada di dekat rel, saya aja Deeza duduk menunggu kereta lewat di sebuah gardu jaga yang biasa digunakan untuk siskamling warga kami. Biasanya sekitar pukul 06.15 kereta Kaligung akan lewat dari Tegal menuju Semarang. Setengah jam kemudian kereta Argo Sindoro dari arah Semarang menuju Jakarta akan lewat. Begitu terus tiap pagi dan saya tanpa bosan akan selalu mengatakan, “Itu kereta Kaligung yang menuju rumah Aki dan Nini di Semarang.  Dan itu kereta Argo yang menuju rumah Eyang Papa dan Eyang Mama di Jakarta…”

Begitu rutinitas kami berdua tiap pagi. Dan ketika kuceritakan rutinitasku tiap pagi pada teman-teman kantor, ada beberapa orang yang tertawa mendengar kegiatanku menonton kereta api l ewat.  Saya tidak heran dengan reaksi sebagian teman tersebut. Mungkin bagi sementara orang lain  yang membaca blog saya ini pun akan bereaksi sama. Tapi mari saya tuliskan lagi alasan saya melakukan ini.

Masa Kecil Saya

Puluhan tahun yang lalu ketika saya kecil dan bersekolah di Semarang. Ada pengalaman yang sampai hari ini tidak pernah terlupakan oleh saya. Hampir setiap sore saya selalu menanti kedatangan ayah saya dari kerjanya. Ayah saya yang seorang dosen dengan mengendarai motor bebek Honda Supercup warna biru (bunyi motornya pun sampai sekarang masih terngiang-ngiang oleh saya), biasanya pulang sekitar jam setengah lima sore.  Saya pada waktu itu dengan egoisme diri saya tidak pernah tahu dan tepatnya tidak mau tahu apakah Papih (begitu biasa saya memanggil beliau) sedang capek, pusing karena kelakuan para mahasiswanya atau pusing memikirkan ini akhir bulan dan lain sebagainya. Saya selalu merengek untuk segera membonceng naik sepeda motor dan berharap papih segera mengajak pergi jalan-jalan. Papih tidak pernah menolak keinginan saya. Beliau paling-paling meminta saya menaruh tas kerjanya di rumah lalu meminta saya mengenakan sandal jepit lalu segera lah kami meluncur jalan-jalan.

Ada satu tempat yang biasa kami datangi. Mungkin teman-teman yang berasal dari kota Semarang sudah hafal dengan tempat ini, yaitu bendungan banjir kanal barat. Kami datang dan menyandarkan sepeda motor dan Cuma memandangi aliran sungai kaligarang yang cukup deras pada waktu itu. Bahkan terkadang kalau tidak begitu deras banyak orang yang bermain ski di bendungan tersebut. Kami berada di bendungan tersebut paling lama 10 menit setelah itu karena papih lelah lalu mengajak pulang. Hampir tiap hari saya melakukan aktivitas itu dan itu menjadi pemandangan terindah bagi saya sampai sekarang.

Gambar Untuk Deeza

Pemandangan bendungan itu masih terekam jelas dalam memori saya. Dan saya pun ingin melakukannya untuk anak saya Deeza. Saya berharap kegiatan dan rutinitas yang saya lakukan untuk melihat kereta api di setiap pagi bisa membekas dalam memorinya dan bisa menjadi pemandangan yang terindah yang pernah dibuat oleh ayahnya untuknya. Karena jauh dari itu, saya berharap ketika Deeza dewasa nanti dan berposisi seperti halnya saya saat ini, dia akan melakukan hal yang sama seperti saya pada anaknya kelak dengan kondisi dan kapasitasnya saat itu juga.

 

 

Login Panel
Username:
Password:
Remember Me

Not registered?
Register now!

Forgot your password?
Latest Word
Kisah Caca

Watashi no Milad

MEMBINGKAI SEBUAH GAMBAR TERINDAH UNTUK ADEEZA

SYUKUR TERHADAP NIKMAT

Bedanya Cowok ma Cewek

Diskusi ma Sanja

Renungan Hari Senin

Puisi Satu

Lanjutan...(Kisah Nasrudin 2)

Kisah Nasrudin

Kepingan Puzzle

Counseling Letter

Kado Ultahku

Ibuku, Kartiniku sesungguhnya

Email dari Sahabat

Saat Kau menghukumku………

QUO VADIS DENGAN CINTA

Prosa Cinta

Puisiku untukmu Cuk….

Cinta itu…