Watashi no Milad By admin Published: March 20, 2009
Print Email
Setiap momen, apalagi itu momen yang berkaitan langsung dengan diri saya, saya selalu menyempatkan diri melakukan kontemplasi. Merenung dan berdialog dengan diri sendiri atau dalam kosa kata lain disebut muhasabah. Bahkan menurut suatu riset psikologi, seorang manusia yang normal dan sehat selalu berdialog dengan diri sendiri minimal 100-an kali dalam satu harinya. Nah sudahkah anda melakukan dialog dengan diri anda sendiri sebagaimana manusia normal?
Momen milad terlebih lagi, ketika kita menyadari usia kita bertambah menjadi tua…yang belum tentu menjadi dewasa (sementara ada yang berpendapat bahwa sudah setahun pula usia kita dikurangi dan semakin dekat pada kematian…). Menjadi jauh lebih bermakna ketika kontemplasi ini dilakukan dalam suasana batin yang tenang hingga batin bisa menjawab pertanyaan dengan jujur. Asal muasal perenungan ini bagi saya pribadi dimulai ketika ada satu masa ketika saya “jatuh terbenam” ke dalam situasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ketika sebagian teman-teman dan sahabat saya menyebut saya patah hati. Akan tetapi sebenernya jauh di atas itu, “terpuruk” -nya diri saya disebabkan karena dari peristiwa itulah pertama kali saya diingatkan oleh-Nya bahwa kehidupan ini seringkali tidak sesuai dengan rencana atau keinginan kita. Saya yang cenderung perfeksionis menyadari bahwa yang terbaik buat kita belum tentu terbaik di mata-Nya. Dan tepat di hari ulang tahun ini, perenungan ini saya lakukan. Membuka KTP dan menilik usia, perenungan saya semakin dalam. Di usia ini apa yang sudah saya raih dan apa yang belum saya raih. Saya tidak mau membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Apalagi kalau harus membandingkan teman-teman seangkatan saya yangsudah lama bekerja di Jakarta. Saya tidak mau terjebak membandingkan apple to durian. Dari artikel yang pernah saya baca, salah satu sumber kecemasan manusia modern adalah kecemasan untuk bersaing dengan orang lain. Ketakutan para incumbent terhadap para bawahannya yang mungkin lebih “cerdas”, lebih “cekatan”, lebih “gesit” atau lebih-lebih lainnya seringkali membuat mereka untuk terjebak pada kepicikan untuk tidak mau membagi pengetahuan, tidak mencoba mengembangkan sub-ordinate-nya untuk lebih berkembang lebih maju dan lain sebagainya. Begitu juga para fresh graduate, para bawahan, sub-ordinate, berlomba-lomba bersaing dengan sesamanya untuk membuktikan diri yang terbaik. Menghalalkan segala cara, sikut kanan, sikut kiri, menafikkan etika, tidak menghargai proses, meninggalkan kesabaran, kerja keras dan ketekunan di dalam proses mencapai tujuan. Hidup kita setiap hari diisi dengan cara bagaimana kita menjadi yang terbaik dibandingkan dengan orang lain. Berkompetisi untuk menjadi juara dengan selalu membanding-bandingkan dengan orang lain. Padahal sejatinya di dalam kehidupan, manusia diciptakan dengan segala keunikannya. Ada kekuatan yang membuatnya menonjol dibanding yang lain. Ada kelemahan yang membuatnya minder dan sibuk untuk menutupinya. Tapi tak ada manusia yang sempurna, semuanya memiliki dua-duanya yaitu kekuatan dan kelemahan. Jadi tidak pada tempatnya kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Lihatlah diri kita sendiri, kekuatan apa yang saya miliki dan sudah saya sumbangkan untuk yang lain. Apa kelemahan saya yang tidak menghambat kita untuk berkembang. Bandingkanlah diri kita setahun, lima tahun atau 10 tahun yang lalu. Apa yang sudah berkembang dalam diri kita, apa yang stagnan dan apa yang berkurang. Tanyakanlah pada diri kita sendiri dan semoga hati nurani yang jujur yang bisa menjawabnya. Itulah yang saya lakukan, saya membandingkan diri saya sekarang, kemaren dan dulu. Apa yang sudah saya lakukan dengan melakukan hubungan terhadap Allah, terhadap sesama manusia dan kepada diri sendiri. Dengan begitu saya merasa nyaman terhadap diri saya sendiri. Dan tidak pernah menyalahkannya. Selamat berjuang teman-teman. |